==========================================================================================================
Seorang pria yang mengenakan gaun hijau limau untuk pemakaman seorang prajurit itu mengatakan bahwa dia melakukannya untuk menghormati perjanjian yang mereka buat bersama.
Barry Delaney (25) membuat sebuah kesepakatan gila dengan Kevin Pte Elliott bahwa ketika salah satu di antara mereka meninggal, maka yang seorang lainnya harus mengenakan gaun perempuan seperti itu ke pemakaman.
Pte Elliott, dari Black Watch, terbunuh saat melakukan patroli di distrik Babaji provinsi Helmand di Afghanistan pada tanggal 31 Agustus tahun ini.
Delaney, rekan Elliot yang masih hidup mengenakan gaun berwarna hijau dan kaus kaki warna merah muda menyala ke pemakaman pada hari Selasa (15/9) lalu.
Sembari melantur menggambarkan bahwa Pte Elliott merupakan 'pahlawan sejati', Delaney mengatakan bahwa dia benar-benar bangga telah mengenalnya.
Dia berkata bahwa temannya ingin dia untuk menjaga janji yang mereka buat tahun lalu.
'Terlihat Konyol'
"Kev seperti saudara saya - kami akan melakukan apa pun untuk masing-masing," katanya kepada surat kabar Daily Record.
"Kami mengatakan bahwa siapa pun yang meninggal lebih dahulu, yang lain harus mengenakan gaun merah muda dengan bercak hijau ke pemakaman - dan kami telah saling berjabatan atas janji tersebut."
"Semua itu adalah idenya dan semakin saya berpikir tentang hal ini, saya semakin yakin bahwa Kevin tahu ada sesuatu yang akan terjadi pada kami."
Delaney tidak mampu menemukan sebuah gaun merah muda dengan bercak hijau sehingga ia memilih satu dari Primark hijau dan kaus kaki merah muda ditambahkan untuk membuat pakaian tampak konyol.
Dia mengatakan kepada surat kabar tersebut: "Inilah yang Kev inginkan."
Ratusan pelayat menghadiri pemakaman Pte Elliott pemakaman di Gereja Saint Mary di Dundee.
Dia dimakamkan di Taman Makam Barnhill dengan diselingi iringan suara tembakan sebagai bagian dari pemakaman militer.
Pte Elliott, salibis yang terpaksa mengakhiri hidupnya di negeri mujahidin, meninggal bersama salah seorang rekannya yang berusia 40 tahunan, Sersan Stuart Millar dari Inverness.
Tampaklah, bahwa bagi para salibis ini, mempermalukan diri merupakan hal yang tidak lagi dianggap tidak lumrah, bahkan sebaliknya hal tersebut sangat wajar bagi mereka.
Kamis, 01 Oktober 2009
Tentara Kafir Sinting, Hadiri Pemakaman Rekannya Dengan Gaun Perempuan
Muslim Di Kashmir: Tekanan Tiada Henti (Potret Buram Kekejian India Di Kashmir)
===================================================================================================
“Mereka menyiksa saya dengan brutal. Mereka memanggil petugas kebersihan dan mereka memaksa dia untuk menyodomi saya,” kata Mohammed Ahsan Untoo.
Pengakuan tersebut dibuat oleh Untoo (52), saat ia mencoba mengingat kembali bagaimana ia diserang setelah ditangkap oleh polisi di ibukota India New Delhi empat tahun lalu.
"Dalam Lodhi Road, Penjara Khusus, mereka memaksa saya untuk minum alkohol untuk mencoba menghancurkan saya. Untuk hidup sebagai manusia di sini sangat sulit."
Pada tanggal 9 Februari 2005, petugas dari Kepolisian Penjara Khusus Delhi, spesialisasi dalam divisi kontra-terorisme, menangkap Untoo, seorang aktivis hak asasi manusia di Kashmir dan pernah terlibat dengan salah satu kelompok mujahidin Pakistan yang menginduk pada Hizb-ul-Mujahidin.
Pria paruh baya itu menyatakan bahwa ia dipukul dan mengalami pelecehan seksual selam empat hari di kantor kepolisian di selatan kota Delhi. Kemudian ia ditahan dengan dua tuduhan oleh Official Secret Act. Dan polisi mengatakan bahwa tuduhan penyiksaan dan pelecehan terhadap Untoo tidak berdasar.
Kepolisian India mengklaim bahwa ia ditangkap karena membawa informasi rahasia dan terlarang termasuk dokumen militer India dan uang sebesar 70.000 rupee. Mereka menyatakan bahwa uang itu diberikan kepadanya oleh badan intelijen Pakistan, Inter-Services Intelligence (ISI).
Tuduhan itu ditolak oleh Untoo. Pengacaranya mengklaim bahwa dokumen itu dimasukkan ke dalam tas yang ia bawa tanpa sepengetahuannya dan ia dipaksa dan diancam agar menandatangani pernyataan kosong yang mereka sodorkan. Persidangannya yang dimulai di ibu kota pada tahun 2007, berakhir pada bulan Mei, memutuskan bahwa ia dinyatakan bersalah dan dihukum empat tahun penjara.
"Saya adalah bagian dari Hizb-ul-Mujahidin, saya adalah salah satu komandan tempur. Sebagai seorang komandan, saya membantu orang-orang ini (mujahidin) kemana pun mereka pergi," katanya kepada IOL sebelum putusan dikeluarkan.
Tahun 1993, Untoo mengundurkan diri dari Hizb-ul-Mujahidin dan kemudian terlibat aktif dalam aksi-aksi pembelaan hak asasi manusia hingga ia ditangkap tahun 2005. Ia mengkampanyekan hak-hak keluarga dari orang-orang yang hilang sejak pemberontakan Kashmir bermula dan menyoroti kematian yang seringkali terjadi terhadap muslim Kashmir pada saat ditahan oleh India.
Ia terang-terangan mengecam tindakan personil militer, petugas kepolisian, dan politisi yang melakukan tindakan penganiayaan atau yang diam saja membiarkan penganiayaan tersebut terus terjadi. Dan sebagai upaya membungkamnya, 'pemerintah' pun menangkap Untoo dan memenjarakannya.
"Saya hanya ingin mengusahakan terwujudnya kemerdekaan politik, tanpa kekerasan. Tapi saya tetap ditangkap. Saya tidak takut. Saya tidak mau bergantung pada orang lain," tambahnya.
Karena Untoo sudah berada lebih dari empat tahun dalam tahanan menunggu hasil dari pengadilan, maka hakim memutuskan bahwa Mei ia harus dibebaskan.
Saat ini ia masih diamankan oleh pihak Kashmir, menunggu hasil persidangan kedua dengan tuduhan keterlibatannya sebagai provokator dalam protes publik di Srinagar di Kashmir 2004.
Banyak Kasus
Untoo tidak sendiri. Ada lebih dari 800 tahanan politik Kashmir yang saat ini ditahan atas perlawanannya terhadap penjajahan India di Kashmir. Jumlahnya lebih banyak daripada jumlah tahanan dari pihak militer India yang terjerat kasus penahanan ilegal.
Persoalan utama dari semua ini -sikap keras kepala yang sulit untuk disembuhkan- adalah isu kontroversial kedaulatan Kashmir.
Baik India maupun Pakistan, sama-sama mengklaim atas wilayah sengketa itu. Pemberontakan terhadap kontrol New Delhi atas Kashmir memuncak untuk pertama kalinya pada tahun 1989 ketika pemberontak bersenjata, beberapa ada yang dilatih dan didanai oleh ISI, mengangkat senjata. Perlawanan tidak ditolerir. Lebih dari 60.000 orang tewas sejak pasukan India memulai operasi melawan pemberontakan setahun kemudian.
Tidak ada satupun anggota tentara India atau pasukan paramiliter yang pernah dituntut di pengadilan sipil atas pelanggaran kemanusiaan yang telah mereka lakukan di Kashmir, sebagaimana yang dilansir dalam hasil penelitian yang dilakukan oleh Jammu and Kashmir's High Court Bar Association. Kelompok hak asasi manusia di negara itu pun mengatakan sekitar 10.000 pria dan anak-anak hilang sejak 1989. Baru-baru ini, sejumlah kuburan tanpa nama ditemukan di beberapa negara bagian.
Kampanye Politik Untuk Pembebasab Narapidana pun memperkirakan India memiliki lebih dari 10.000 tahanan 'pembangkang' dalam penjara dan jumlah ini meningkat seiring dengan semakin banyaknya pemerintah negara bagian dan pemerintah federal yang menyalahgunakan hukum untuk menindas oposisinya.
Dalam beberapa tahun terakhir pertanyaan tentang bagaimana India sebagai negara 'terbesar' dalam dunia 'demokrasi', telah diketahui kebobrokannya karena telah memenjarakan dan melakukan penyiksaan terhadap jurnalis, aktivis hak asasi manusia, dokter dan orang-orang yang diduga 'teroris' yang telah menentang negara dan kebijakan Pemerintah federalnya.
Agrwaal Ashok, salah seorang advokat New Delhi yang telah menuliskan berbagai macam pelanggaran kemanusiaan di Kashmir, mengatakan: "India sering meratifikasi perundang-undangan internasional tetapi kemudian tidak memformalkannya ke dalam hukum domestik karena India tidak ingin dilihat sebagai salah satu dari negara dunia ketiga. India ingin dilihat publik internasional sebagai negara yang tidak pernah menekan perbedaan pendapat." Padahal sebaliknya.
"Dalam semua kasus ini, negara telah merekayasa situasi. Kita tidak lagi mampu mempercayai negara karena sudah jelas-jelas berbohong dan memanipulasi lagi dan lagi. Anda tidak bisa lagi mempercayai negara semacam itu dan hal itu adalah tragedi terbesar." Dan hingga detik ini, tentara India menolak memberikan komentar.
Rabu, 16 September 2009
Lagi, Bukti Kejahatan Iblis Perang Israel Di Gaza Terungkap
=====================================================================================================
Sebuah penyelidikan yang dilakukan oleh PBB mengungkapkan kejahatan Israel terhadap kemanusiaan lainnya selama melakukan penyerangan tiga minggu bertubi-tubi di Jalur Gaza tahun lalu.
Dalam laporan yang dipublikasikan pada hari Selasa (15/9) itu, PBB mengatakan Israel melanggar undang-undang kemanusiaan internasional dan menggunakan angkatan perang yang melebihi proporsi selama perangnya di Gaza delapan bulan lalu.
Penyelidikan dipimpin oleh mantan hakim Afrika Selatan, Richard Goldstone, yang kemudian menyimpulkan bahwa negara Zionis (la'natullah 'alayh) itu melakukan bertumpuk kejahatan perang, terutama perang terhadap kemanusiaan.
"Ada banyak insiden penyerangan yang sengaja diarahkan pada penduduk sipil serta harta benda mereka, dan tentu saja hal itu merupakan pelanggaran terang-terangan atas prinsip dasar undang-undang kemanusiaan internasional," katanya.
PBB sendiri telah menemukan bukti yang cukup kuat pengkhianatan angkatan perang Israel terhadap ketetapan Rapat Keempat Jenewa di Gaza, termasuk dalam hal pembunuhan yang disengaja, penyiksaan atau pengobatan tidak manusiawi, yang memang disengaja agar bisa menimbulkan penderitaan yang lebih berat dan serius baik bagi badannya atau kesehatan, atau juga perusakan hak-hak milik penduduk sipil."
"Operasi Israel ini benar-benar terencana dan dalam semua tahapan operasinya Israel melakukan penyerangan yang brutal dan tidak proporsional, menyiksa, menghinakan, dan menteror penduduk sipil."
Israel, yang menolak untuk bekerja sama dengan tim pencari fakta PBB, menyangkal mentah-mentah laporan tersebut dan menyebutnya sebagai laporan sepihak dan tidak berimbang.
Meskipun sudah begitu kasat mata dampak atas kebrutalan dan kekejiannya, menurut tanggapan yang dikeluarkan oleh kementrian luar negeri Israel, sebanyak 100 jenis tuduhan yang ditimpakan PBB pada negaranya itu tidak memiliki dasar sedikit pun.
Dalam invasinya yang berlangsung di Jalur Gaza pada bulan Desember 2008, pasukan Zionis membunuhi lebih dari 1.400 muslim Palestina, termasuk sebagian besar di dalamnya adalah perempuan dan anak-anak.
Ditemukan Kuburan Massal Di Kunduz Afghanistan
===============================================================================================
Sebuah kuburan massal pada Selasa (15/9) di provinsi utara Kunduz yang sejauh ini berisi 15 jenazah dari era pemerintah yang didukung Uni Soviet ditemukan, kata seorang pejabat.
Kuburan itu ditemukan oleh karyawan konstruksi di distrik Ali Abad, 25 kilometer (15 mil) dari ibu kota propinsi Kunduz, kata sang gubernur, Habibullah Muhtashim.
"Lebih dari 15 mayat ditemukan sampai sejauh ini. Mungkin akan ditemukan lebih banyak lagi jika tempat ini terus-menerus digali," kata Muhtashim, menambahkan bahwa sebagian dari pakaian di mayat tetap utuh.
Dia mengatakan bahwa selama kekuasaan Rusia hingga akhir 1970-an, sebanyak 35 orang ditahan di distiruk Ali Abad dan setelah itu kabar mereka tidak terdengar. Dia mengatakan bisa jadi mayat-mayat yang ditemukan itu adalah mayat dari orang-orang Afghan yang hilang.
Penyelidikan sedang dilakukan, tambahnya.
Kudeta yang didukung oleh Soviet terjadi tahun 1978, dan pada 1980 Moskow memberangkatkan puluhan ribu tentaranya ke Afghanistan, dan sejak itulah gerakan mujahidin mulai muncul dan terus-menerus meningkat.
Pimpinan Independent Human Rights Comission, Zabuhullah Paiwand, menyebut kuburan masal itu sebagai bukti dari kejahatan perang dan dengan tegas mengutuk hal tersebut. Dia mengatakan siapapun yang bertanggung jawab harus ditangkap dan diberi hukuman yang setimpal.
Shaikh Usamah Bin Ladin: Sebuah Teguran Untuk Amerika
========================================================================================================
"Salah satu alasan yang membuat kami berselisih dengan anda adalah dukungan anda bagi sekutu anda, Israel, yang menjajah negeri kami di Palestina."
Kutipan di atas merupakan kutipan pesan yang disampaikan oleh Syaikh Usamah bin Ladin pada Amerika untuk kembali memikirkan kebijakan mereka. Syaikh Usamah berusaha untuk menjelaskan adanya bantuan AS bagi Israel dan berbagai macam upaya penjajahan lainnya pasca penyerangan 11 September 2001.
Pesan dalam bentuk video yang bertajuk "Sebuah Teguran Untuk Warga Amerika" dirilis pada Minggu (13/9) oleh As-Sahab, sayap produksi media Al Qaidah, menampilkan gambar sosok Syaikh Usamah dan audio pernyataan. Rekaman tersebut muncul dua hari sesudah Amerika Serikat merayakan ulang tahun ke-8 pasca serangan Al Qaidah melalui pesawat yang ditabrakkan ke World Trade Center dan Pentagon.
Syaikh Usamah bin Ladin mengatakan bahwa selain tindakan keji lainnya, dukungan AS terhadap Israel memotivasi Al-Qaidah untuk melancarkan serangan 11 September tersebut.
Ia pun menyatakan bahwa perang AS di Irak dan Afghanistan tidak pernah bisa dilepaskan dari lobi-lobi pro Israel di Gedung Putih serta berbagai macam kepentingan korporasi, bukan karena munculnya dan berkembangnya militansi Islam di kedua negara itu.
"Jika anda pikir bahwa situasi anda membaik, anda akan mengetahui bahwa Gedung Putih yang selama ini anda andalkan sedang ditunggangi oleh segelintir orang yang terus-menerus memberikan tekanannya," tutur Syaikh Usamah.
"Daripada bertempur untuk membebaskan Irak, sebagaimana yang diklaim oleh Bush, Gedung Putihlah yang seharusnya dibebaskan."
Ia pun merujuk pada mantan Presiden AS George W. Bush yang begitu berhasrat memerintahkan invasinya ke Irak pada Maret 2003 yang menggulingkan rezim Saddam Hussein.
"Jika warga Amerika mau mengakhiri konfrontasi mereka dengan Al Qaidah,” lanjut Syaikh, “mereka harus mempertimbangkan kembali sikap mereka terhadap negara Yahudi.
"Tinggalkan segala berkas persekutuan anda dengan orang-orang Israel di meja perundingan,” katanya.
"Tanyalah diri anda sendiri untuk menentukan posisi anda: apakah anda lebih menyukai keamanan anda, darah anda, anak anda, uang anda, pekerjaan anda, rumah anda, ekonomi anda, dan reputasi anda ketimbang keamanan orang-orang Israel, anak mereka dan ekonomi mereka?"
"Jika anda anda lebih memilih keamanan anda dan menghentikan perang, sebagaimana ditunjukkan melalui hasil jajak pendapat belum lama ini, maka anda perlu bekerja keras untuk menindak siapapun yang ada di sekeliling anda yang bermain-main dalam masalah keamanan," lanjutnya.
"Kami sangat siap untuk memberikan respon atas pilihan tersebut."
Menurut Syaikh Usamah, Presiden AS Barack Obama sama sekali tidak berdaya dalam menghentikan peperangan yang terlanjur pecah di Irak dan Afghanistan.
"Keputusan Obama dengan tetap mengadopsi Robert Gates dalam Departemen Pertahanan AS dan beberapa sosok lain yang juga pernah menjabat di masa Bush dalam pemerintahannya merupakan penegasan terhadap ketidakberdayaan presiden ini," kata sosok kharismatik yang memimpin Al Qaidah, organisasi yang paling ditakuti AS.
"Jelaslah bahwa anda harus mengubah kecenderungan dan keberpihakan Gedung Putih," katanya.
"Kebenaran pahitnya adalah bahwa politik neo-konservatif terus-menerus membayangi anda."
Syaikh Usamah bin Ladin pun mendesak warga Amerika untuk menekan Gedung Putih untuk menghentikan peperangannya di Irak dan Afghanistan, serta dukungan penuh AS terhadap Israel, daripada terus-terusan mengalah untuk kepentingan para pengusung neo konservatif melalui agenda perang melawan terorisme ideologis.
"Jika perang tidak disudahi, maka kami tidak punya pilihan lain kecuali meneruskan perang gerilya kami melawan anda dimanapun dengan cara apapun, sebagaimana kami melemahkan Uni Soviet selama 10 tahun hingga negara itu runtuh dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa dan menjadi hanya menjadi kenangan masa lalu,” kata Syaikh Usamah.
Namun sayangnya, rekaman suara yang hanya berdurasi 11 menit ini terlalu banyak ditelikung oleh media-media di Amerika Serikat yang tidak ingin bermain-main dengan sesuatu yang justru akan membahayakan mereka, membahayakan hegemoni AS di dunia internasional. Namun, yakinlah bahwa arogansi AS itulah yang akan menyeret mereka pada kehancurannya sendiri, dengan izin Allah Subhana Wa Ta'ala.
Kamis, 10 September 2009
Aceh Terapkan Hukum Rajam bagi Pelaku Zina
========================================================================================
Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dalam waktu dekat akan menerapakan hukuman rajam hingga mati bagi para pelaku zina. Sanksi keras tersebut akan diberlakukan kepada para pelaku zina yang sudah menikah.
Adapun bagi para pelaku zina yang memiliki status belum menikah akan dijatuhi hukuman cambuk dengan menggunakan tongkat rotan sebanyak 100 kali. Hukuman rajam dilakukan dengan cara melempari batu kepada pelaku zina hingga tewas.
Demikian keterangan yang disampaikan Raihan Iskandar, anggota DPRD Provinsi NAD dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) seperti dikutip dari www.news.com.au, Kamis (10/9).
Aceh, sejauh ini telah menerapkan sejumlah hukum syariah yang merujuk pada Alquran dan hadist. Di antaranya mewajibkan muslimah memakai busana muslim, melaksanakan salat lima waktu sehari, puasa, dan memberikan sedekah kepada fakir miskin.
Hukum syariah diberlakukan dibawah komando lembaga otonom yang diberikan wewenang memerintah oleh pemerintah pusat sejak tahun 2001 untuk meredam kelompok muslim garis keras meminta kemerdekaan.
"Rancangan undang-undang ini hanya difokuskan pada isu etnis yang meliputi konsumsi alkohol, judi, zina, dan perkosaan," ujar Iskandar. "DPRD Provinsi Aceh dijadwalkan akan mengesahkan RUU ini pada Senin," imbuhnya.
The Manhattan Raid - Kisah Heroik 19 Pemuda Pemberani
===============================================================================================
Film ini menceritakan kebenaran yang tersembunyi dari peristiwa 11 September 2001. Menguak kelemahan keamanan negara super power, Amerika Serikat, dan kabar burung tentang kecanggihan inteligennya. Dari goa-goa dan pegunungan Tora Bora di Afghanistan, dengan peralatan sederhana, latihan dan disiplin baja, 19 orang pemuda pemberani melakukan sebuah aksi heroik, 11 September 2001. Mereka, 19 Pemuda Pemberani ini beraksi di Manhattan, New York. Mereka memberikan pelajaran beharga kepada kaum muda ummat, dalam hal pengorbanan dan keyakinan mengenai kemenangan di jalan Allah dan kepercayaan sejati hanya kepadaNya.
Film ini menceritakan kisah heroik 19 pemuda pemberani yang sebagian besarnya berasal dari tanah suci, Mekkah dan Madinah, kemudian dilatih di bumi jihad, Afghanistan, untuk kemudian beraksi di Manhattan, New York. Mereka meluluh-lantahkan simbol ekonomi AS, Menara Kembar WTC dan gedung-gedung penting lainnya, termasuk Pentagon, simbol militer dan pertahanan Amerika Serikat. Film ini juga menceritakan dengan jelas dan gamblang alasan dan latar belakang aksi mereka. Mengapa mereka melakukan aksi yang tidak akan pernah dilupakan sejarah umat manusia ini ?
Muhammad Atta, Marwan Al Shehi, Ziad Jarrah, dan Hanni Hanjur adalah para pilot yang menjalankan aksi heroik ini. Mereka benar-benar terpilih dan berhasil menjalankan misi suci di Manhattan, melumpuhkan pertahanan dan keamanan super canggih penerbangan Amerika. Sementara yang lainnya, sebagaimana diungkapkan oleh Syekh Usamah bin Laden-benar-benar telah dipilih Allah Subhana Wa Ta'ala. untuk melakukan aksi mulia ini. Spektakuler!
Sebuah film yang tidak boleh dilewatkan oleh siapa pun, untuk menjawab keingintahuan Anda mengenai fakta sebenarnya peristiwa 11 September 2001.
Kamis, 03 September 2009
Muslimah Palestina Ungkapkan Penyiksaan Yang Diterimanya Dalam Penjara Israel
================================================================================================
Seorang muslimah Palestina yang ditahan oleh Zionis Israel menceritakan bagaimana dirinya harus menghadapi introgasi, intimidasi, dan penyiksaan selama 14 hari berturut-turut oleh tentara dan introgator Yahudi (la'natullah 'alayh).
Najwa Awni Abdul-Ghani mengatakan pada pengacara Palestinian Prisoner Society (PPS) bahwa pada 21 Juli 2009, tentara Israel menggeledah rumahnya selama tiga jam. Mereka merusak semua barang miliknya, menteror keluarga, dan menculiknya beserta saudara laki-lakinya, Salah.
Selama operasi penggeledahan, tentara Zionis itu memaksa keluarga, termasuk anak dan kakek neneknya, keluar dari rumah mereka di kota Saida, dekat kota utara Tepi Barat, Tulkarem.
Kemudian, tentara Israel dengan bengis membawa ia dan adiknya dengan dua kendaraan yang berbeda. Berdasarkan keterangan Najwa Awni, ia tidak mengetahui lagi bagaimana nasib adiknya.
Najwa menceritakan bahwa ia dibawa ke penjara Sharon dan kemudian dipindahkan ke pusat introgasi al-Jalama, tempat ia diberi rentetan pertanyaan yang sentimen, diintimidasi, dan disiksa selama 14 hari.
Ia mengatakan pada pengacara PPS bahwa ia kurang istirahat dan tidak pernah diberi makanan yang baik.
"Kondisi kehidupan di dalam penjara itu sangat mengerikan, selnya kotor, bau, dan tidak ada ventilasi serta alas tidur," ungkap Najwa.
Setelah 14 hari, ia diangkut dengan tangan dan kaki terikat dengan besi, dalam sebuah kendaraan militer dan dipindahkan ke penjara al-Damoun, tambahnya.
Najwa Awni Abdul-Ghani adalah salah satu dari sekian banyak muslimah Palestina yang harus menghadapi kekejian bangsa Yahudi, semoga Allah melaknat mereka. Masih banyak muslimah-muslimah lain yang terpenjara dan mengalami hal serupa, atau bahkan ada dalam kondisi yang lebih parah dari apa yang dialami oleh Najwa.











